WARGA MENOLAK PENUTUPAN LOKALISASI DI MOROSENENG

WARGA MENOLAK PENUTUPAN LOKALISASI DI MOROSENENG

BintangPos, Surabaya – Rencana penutupan lokalisasi Sememi Jaya (Moroseneng) oleh pemerintah kota Surabaya bukan merupakan solusi atau jalan keluar yang baik dikarenakan keberadaanya selama ini banyak meningkatkan kesejahteraan masyarkat setempat dan sekitarnya, membantu program pemerintahan dalam hal pembangunan kampung serta akan berdampak negatif terhadap kehidupan sosial masyarkat khususnya sektor ekonomi masyrakat di RW I Sememi Jaya Kec. Benowo dan menambah permasalahan baru di masyarkat.

Hal ini diungkapkan Ketua RW 1 Sememi Jaya, Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo, Sukari. Menurutnya, dirinya mendapat keluhan rencana penutupan lokalisasi dari para pemilik wisma dan warga yang menggantungkan hidupnya di lokalisasi tersebut.

“Meski mereka bukan penduduk tetap, tapi mereka tetap warga saya. Mereka mengeluh jika sampai Moroseneng ditutup, akan sangan berdampak besar bagi kehidupan baik baik penghuni dan warga sekitarnya yang menggantungkan dari sana,” Ungkapnya

Apalagi ungkap Sukari, warga yang menggantungkan hidupnya dari lokalisasi tidak pernah resah dan protes atas keberadaan lokalisasi yang memiliki 32 wisma tersebut.

“Warga sekitar sangat terbantu ekonominya dengan keberadaan lokalisasi, mereka berjualan, buka tempat parkir, ada juga buruh cuci dan masih banyak lagi. Kalau ditutup warga dapat apa, wonk yang dapat pesangon hanyak mucikari dan PSK,” tegasnya.

Keberadaan Lokalisasi Moroseneng yang berdiri sejak tahun 1970 merupakan salah satu lokalisasi tertua di Surabaya dan sempat menjadi tempat favorit para pria hidung belang setelah Dolly, akan tetapi setelah ada issue akan ditutup, lambat laun lokalisasi Moroseneng menjadi sepi dan banyak wisma yang tutup.(ali)

 

 

5 Comments

  1. penutupan. tpi uang pesangon yg dpet cm 2 jt selebihnya kemana…. gitu mau di setujui … kalo mau niat kasih pesangon knpa gk langsung ke orangnya. gk pake pelantara. uange habis di makan penguruse. cma terima 2 juta

  2. udah uang cuma 5 kuta di terima cma 2 jt ama yg bersangkutan… gk ada kata kasihan untuk orang kecil seperti kami. bukan menolong kasih uang pesangon ke psk.. malah makin bantu penguruse agar cepat kaya…..

  3. tolong di ertimbangkan untuk uang pesangon agar ta terkurangi oleh tiap pnguruse. bukan angka nominal sedikit. terbilang ckup bnyak untuk kami jika hilang 3 juta

  4. sebelum ada komentar diatas BU RISMA UDAH MENERIMA BERKAS “KOMPLAIN GERMO” MELALUI LEMBAGA2 DI AREA PROSTITUSI. oh ditutup ya lebih cepat lebih baik, kok mbaknya ditengah malu malu difoto kalo merasa kerjaanya benar maka tidak akan merasa malu, dibelain kayak apa aja tidak akan menyangkal fitrahnya sebagai manusia untuk membedakan mana baik dan buruk. saya yakin bahwa dalam hati mereka mengetahui kalo itu bisnis HARAM, yah karena ego manusiawinya yang membuat seperti itu….
    Yang kontra penutupan ya orang lokalisasi sendiri yakni germo, PSK, ma pdagang sekitar yang notabenya semuanya pendatang bukan asli warga surabaya. mereka berusaha membuat tipudaya “jungker walek” entah membuat isu isu yang tidak logis bahkan membayar stasiun televisi tertentu untuk meliput mereka seakan akan warga menolak, padahal mayoritas mereka bukan warga kampung.
    warga kampung diam diam saja adanya lokalisasi bukan berarti pro, mereka itu sangat kontra hanya saja malas tahu dengan keadaan sekitar. buktinya anaknya jangan sampai terjerumus ke area lokalisasi dengan di didik ngaji dan lain sebagainya…

    -KESIMPULANYA: MENURUT OPINI SAYA MUNGKIN BU RISMA SEBAGAI SEORANG WANITA MIRIS JIKA ADA WANITA YANG LAINYA DIJUAL MURAH DAN JADI BARANG DAGANGAN ORANG LAKI LAKI, KENAPA? BU RISMA JUGA WANITA YANG BISA MAJU SEPERTI SAAT INI.-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *