UGM Ajak Warga Kreatif Tingkatkan Hasil Panen

UGM Ajak Warga Kreatif Tingkatkan Hasil Panen

Bintang Pos, Jakarta – Keterbatasan lahan dan sumber daya air di Desa Srimartani, Bantul, menginspirasi Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menggelar lomba bagi para warga. Lomba ini mengasah kreativitas warga untuk mengembangkan hasil pertanian di tengah keterbatasan tersebut.

Kompetisi tersebut bernama lomba budidaya padi dengan metode System of Rice Intensification (SRI). Pada perlombaan kali kedua itu tercatat diikuti oleh 26 peserta sementara tahun sebelumnya hanya diikuti 11 peserta.

“Selain jumlah peserta yang meningkat, rata-rata hasil panen dilihat dari ubinan, produksinya lebih dari enam ton per hektare,” kata Dekan FTP UGM Lilik Sutiarso, seperti dikutip dari situs UGM, Senin (29/7/2013).

SRI dikembangkan sebagai salah satu cara meningkatkan produksi padi dalam keterbatasan sumber daya air dan lahan. Bahkan dengan kondisi cuaca yang tidak menentu karena perubahan iklim global, metode SRI menjadi alternatif untuk bisa memanfaatkan air yang jumlah terbatas.

“Di Srimartani lahan pertanian sudah sangat terbatas dengan lahan petani yang sempit. Produktivitas padi perlu ditingkatkan agar hasil pertanian dapat memenuhi kebutuhan hidup petani,” tambahnya.

Menurut Lilik, keikutsertaan petani menggunakan metode SRI tidak pernah dipaksakan. Perlombaan dilaksanakan untuk memotivasi petani yang sudah menggunakannya. Karena hasil produksi meningkat, mereka yang belum menggunakan akhirnya mencoba menggunakan metode SRI.

“Perlombaan ini hanya untuk memotivasi mereka saja. Tapi dalam prakteknya petani selalu mendapatkan pendampingan dari tim UGM,” ungkap Lilik.

Corporate Secretary Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Hermin R Rahim mendukung kegiatan diseminasi teknologi pertanian metode SRI dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani. Menurut Hermin, metode SRI kemungkinan juga akan diaplikasikan di daerah lain di Indonesia.

“Tahun ini Baznas memiliki program 100 desa miskin. Metode ini bisa digunakan di daerah lain,” urai Hermin.

Juara pertama lomba metode SRI diraih Kasno. Warga Kwasen, Piyungan, itu mampu menghasilkan produksi delapan ton per hektare. Disusul juara kedua dengan 7,4 ton per hektare yang diraih Jahari. Sedangkan juara ketiga, diraih Arif Purwito dengan produksi 7,3 ton. (oke)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *