Tank Leopard tidak cocok di Indonesia

Tank Leopard tidak cocok di Indonesia

Jakarta  – Presiden ketiga RI Bacharudin Jusuf Habibie mengkritik pemerintah yang membeli tank Leopard buatan Eropa, Rabu 26 Maret 2014. Pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) buat TNI AD itu dinilai tidak tepat, sebab tidak cocok digunakan di wilayah Indonesia.“Untuk apa impor tank Leopard? Itu kan digunakan di negara padang pasir, bukan negara maritim seperti Indonesia. Pakai dong otaknya,” kritik Habibie dalam pidatonya dalam acara Uji Publik Capres 2014: Mencari Pemimpin Muda Berkualitas di sebuah hotel berbintang kawasan Thamrin, Jakarta.

Habibie menyindir pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan dalam pembelian persenjataan perang angkatan darat tersebut. Dia berpendapat, dengan membeli Leopard itu skenario perang jadi berubah. “Sekarang pembuat tank itu mencari orang yang mau membayar besi tuanya,” sindir Habibie.

Tank jenis ini memiliki berat sekitar 60 ton. Alat seberat itu, kata Habibie, tidak cocok dioperasikan di wilayah Indonesia yang pulau dan perairan. “Tank itu tentu tidak bisa lewat jembatan. Saya dengar November akan datang akan datang 120 unit Leopard. Itu nanti mau taruh di mana?” katanya.

Pihak Kementerian Pertahanan tentu sudah mengetahui mengenai kondisi-kondisi teknis itu. Namun, kenapa tetap membeli alutsista tersebut. “Itu otak dagang, mumpung murah maka dibeli. Saya tidak mau mengkritik siapapun, cuma mau peringatkan anak cucu intelektual saya.”

Seperti diketahui, Kementerian Pertahanan baru saja membeli 42 unit tank Leopard dan 61 unit tank tempur utama Leopard Revolution. Bersamaan dengan itu, Kemenhan juga mendatangkan 50 unit tank tempur medium Marder asal pabrikan Jerman, Rheinmenttal. vns

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *