Suka Membicarakan Diri Sendiri? Itu Tanda Anda Depresi

Suka Membicarakan Diri Sendiri? Itu Tanda Anda Depresi

Bintang Pos, Surabaya- Konon semakin tinggi tingkat intelijensia seseorang maka kecenderungannya untuk berbicara sendiri juga akan meningkat, meski hal itu disertai dengan tingkat depresi yang cukup tinggi. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang suka membicarakan dirinya sendiri? Baru-baru ini sebuah studi mengungkap bahwa orang yang sering membicarakan dirinya sendiri juga lebih berisiko menderita depresi dan mudah gelisah.

Tim peneliti dari University of Kassel, Jerman menemukan bahwa orang yang paling sering menggunakan kata ganti orang pertama tunggal seperti ‘saya’ atau ‘aku’ lebih cenderung mengalami depresi ketimbang orang yang lebih suka memakai kata ganti orang pertama jamak seperti ‘kita’ atau ‘kami’.

Kesimpulan itu diperoleh peneliti setelah mewawancarai 15 pria dan 103 wanita yang sebagian besar tengah menjalani terapi karena mengidap depresi dan gangguan kecemasan. Setiap partisipan ditanyai tentang masa lalu mereka, kondisi hubungan asmara mereka dan persepsi partisipan tentang dirinya sendiri.

Hasilnya, peneliti menemukan bahwa partisipan yang sering menggunakan kata-kata seperti ‘saya’ atau ‘aku’ terlihat lebih depresi daripada partisipan yang suka menggunakan ‘kami’ atau kita’.

Tak hanya itu, orang yang suka mengatakan ‘saya’ atau ‘aku juga dilaporkan lebih sering menemui kesulitan untuk memperlihatkan perilaku antarpersonal atau berinteraksi dengan orang lain. Misalnya orang-orang ini lebih rentan menjadi caper (cari perhatian) dan tak mampu menghabiskan waktunya seorang diri.

Sebaliknya, orang-orang yang lebih suka memakai kata-kata seperti ‘kami’ atau kita’ lebih pandai menjaga batasan antara kehidupan sosial dengan kehidupan asmara atau rumah tangganya tapi tetap mempunyai kehidupan sosial yang sehat.

“Penggunaan kata ganti orang pertama tunggal memperlihatkan bahwa orang yang bersangkutan suka menonjolkan bahwa dirinya sendiri adalah entitas yang berbeda, sedangkan penggunaan kata ganti orang jamak menekankan bahwa orang yang bersangkutan merupakan bagian dari kehidupan sosial,” terang ketua tim peneliti Dr. Johannes Zimmerman kepada Medical Daily, seperti dilansir Daily Mail, Kamis (9/5/2013).

Dr. Zimmerman juga percaya jika orang-orang yang sering menggunakan kata ganti orang pertama tunggal cenderung memperlihatkan perilaku ‘needy’ alias seringkali mengharapkan bantuan dari orang lain.(dtk-kba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *