Studi: Sapih Bayi di Usia Tepat Bisa Hindarkan dari Diabetes

Studi: Sapih Bayi di Usia Tepat Bisa Hindarkan dari Diabetes

Bintang Pos, Surabaya – Ketika mencapai usia tertentu, bayi harus disapih agar dapat diperkenalkan pada makanan padat. Tapi sebuah studi baru mengungkapkan para ibu harus pandai-pandai menentukan waktu yang tepat untuk menyapih bayinya agar si bayi dapat terhindar dari diabetes tipe 1.

Menurut peneliti, terlalu dini menyapih anak (ketika usianya kurang dari empat bulan) dapat meningkatkan risiko penyakit autoimun tersebut hingga dua kali lipat. Sedangkan terlalu lambat memperkenalkan makanan padat (ketika si anak berusia enam bulan lebih) maka risiko diabetes tipe 1-nya menjadi tiga kali lipat.

Kesimpulan ini diperoleh setelah tim peneliti mengidentifikasi sekitar 2.000 bayi yang memiliki kerentanan genetik tinggi terhadap diabetes tipe 1, kemudian mengamati perkembangan si anak dan merekam setiap detil pola makannya. Dari keseluruhan partisipan, total 53 anak terbukti mengidap penyakit tersebut.

“Data kami memperlihatkan bahwa ada hubungan yang kompleks antara waktu penyapihan dan jenis makanan yang dipaparkan pada bayi berikut risiko T1DM (type 1 diabetes mellitus) atau diabetes tipe 1-nya,” tulis peneliti yang dipimpin oleh Brittni Frederiksen dari University of Colorado seperti dilansir Daily Mail, Jumat (12/7/2013).

“Di sisi lain kami menemukan adanya ‘jendela yang aman’ atau petunjuk waktu yang dianggap tepat untuk memperkenalkan makanan padat pada anak adalah ketika usia anak berada diantara 4-5 bulan. Selain itu makanan padat sebaiknya diperkenalkan ketika si anak sedang disusui untuk meminimalisir risiko diabetes tipe 1 pada anak-anak yang rentan mengalaminya karena faktor genetik,” tambahnya.

Studi ini juga menemukan bahwa paparan buah yang terlalu dini dan paparan nasi atau oat yang terlambat dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 1 pada anak-anak masing-masing sebesar 2,23 persen dan 2,88 persen.

Tapi jika pengenalan makanan padat seperti gandum atau nasi itu dibarengi dengan aktivitas menyusui maka hal ini diketahui dapat menurunkan risiko sakit gula yang banyak menyerang anak-anak tersebut.

“Walaupun begitu riset lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan temuan ini, termasuk mengungkap alasan sebenarnya di balik hubungan ini. Jika para orangtua khawatir dengan kondisi anaknya, mereka harus menemui dokter atau bidan yang terpercaya,” komentar pakar lain, Dr. Alasdair Rankin dari Diabetes UK.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal JAMA Paediatrics. (dtk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *