Siap-siap, 453 Desa di Jatim Rawan Banjir!

Siap-siap, 453 Desa di Jatim Rawan Banjir!

Surabaya  – Memasuki musim penghujan yang diperkirakan pada November 2013, Komisi D DPRD Jatim meminta kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan pemprov Jatim yang memiliki tanggungjawab soal antisipasi bencana banjir dan tanah longsor supaya bersiap diri.

Anggota Komisi D Bidang Pembangunan DPRD Jatim Irwan Setiawan mengatakan, sedikitnya terdapat 453 desa yang rawan bencana banjir di seluruh Jatim. Untuk itu, pihaknya mendesak Dinas PU Pengairan Jatim mengantisipasi, agar bencana banjir tahunan bisa diminimalisir.

“Jumlah desa yang rawan banjir memang hanya 453 desa atau lebih kecil dibanding jumlah desa yang rawan bencana kekeringan sebanyak 850 desa se-Jatim,” tukas politisi asal F-PKS DPRD Jatim ini.

Di antara upaya antisipasi yang bisa dilakukan, lanjut Irwan, adalah melakukan normalisasi sungai atau kali yang ada di Jatim, seperti sungai Bengawan Solo, Sampeyan, Kemuning, maupun Brantas. Karena selama setahun hampir semua sungai atau kali pasti mengalami pendangkalan.

“Normalisasi sungai dan kali itu yang paling utama adalah di bagian hulu, agar aliran air menuju laut tidak mengalami hambatan,” jelasnya.

Selain upaya antisipasi jangka panjang, pihaknya juga meminta dilakukan antisipasi jangka pendek, seperti melakukan perbaikan tanggul dan waduk, serta pembangunan embung untuk menampung luapan air hujan.

Khusus di daerah-daerah pegunungan dan perbukitan yang rawan bencana longsor di musim penghujan, Irwan meminta supaya dinas terkait juga melakukan langkah antisipasi. “Antisipasi bahaya longsor adalah dengan melakukan reboisasi dan pembangunan plengsengan di pinggir tebing yang rawan longsor,” ungkapnya.

Sementara antisipasi jalan rusak di musim penghujan, Irwan berharap Dinas PU Bina Marga Jatim melakukan penambalan jalan berlubang untuk jangka pendek sebagaimana yang telah diamanatkan Undang-Undang. Dan melakukan pembangunan gorong-gorong di sepanjang bahu jalan. “Salah satu penyebab rusaknya jalan ketika musim penghujan adalah tidak adanya gorong-gorong di bahu jalan,” imbuhnya

Anggota Komisi D dari Fraksi Partai Gerindra Tjutjuk Sunaryo menambahkan bahwa normalisasi sungai jelang musim penghujan mutlak diperlukan karena sedimentasi sungai pasti terjadi di kala musim kemarau.

Pihaknya juga meminta kepada dinas terkait agar mulai melakukan sosialisasi tanggap darurat ke masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, baik banjir maupun longsor. Ini supaya mereka siap dan bisa meminimalisir korban ketika terjadi bencana. bjt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *