Retno Perempuan Pertama yang Jadi Menlu RI

Retno Perempuan Pertama yang Jadi Menlu RI

Jakarta  – Retno Lestari Priansari Marsudi memastikan hadir di Istana Merdeka,hari ini, pukul 16.00, untuk mengikuti pengumuman susunan kabinet oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Retno menyisihkan sejumlah nama lain yang diunggulkan untuk posisi Menteri Luar Negeri (menlu)

Tidak salah jika Retno Lestari Priansari Marsudi, yang kini menjabat Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, dipercaya Jokowi untuk menjabat sebagai menlu. Apalagi menilik latar belakang perempuan kelahiran Semarang 52 tahun lalu itu.

Retno yang tercatat sebagai dubes karir termuda dalam sejarah Indonesia, sejak lama dikenal sebagai figur yang terbuka dengan perubahan. Sebagai diplomat, dia memiliki pandangan bahwa diplomasi ekonomi harus menjadi penekanan untuk diplomasi Indonesia ke depan.

Sementara saat kampanye pemilihan presiden, Jokowi mengatakan dirinya ingin agar para dubes juga menjalankan fungsi dalam bidang ekonomi, perdagangan. Sehingga dipilihnya Retno menjadi menlu, sulit dibantah akan sangat berarti bagi pemerintahan Jokowi.

Istri dari Agus Marsudi itu berasal dari almamater yang sama dengan Jokowi, yaitu Universitas Gadjah Mada, di mana dia tercatat sebagai lulusan termuda Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) pada 1985. “Saya angkatan 81, Pak Jokowi angkatan 80,” kata Retno .

Walau menjadi angkatan yang lebih muda, tapi perempuan yang lahir pada 27 November 1962 itu lulus lebih cepat dengan menyelesaikan kuliah dalam waktu kurang dari empat tahun. “Saya kan sudah diijon oleh Kemlu (Kementerian Luar Negeri – dulu bernama Departemen Luar Negeri) jadi harus cepat selesai,” canda Retno.

Ibu dari dua orang putra itu memang telah direkrut Deplu (kini Kemlu), setahun sebelum dia menyelesaikan kuliahnya. Prestasi akademiknya menarik perhatian Deplu yang kemudian meminta Retno mengikuti tes.

Beberapa mahasiswa asal Indonesia yang menempuh pendidikan di Belanda, mengenal Retno sebagai diplomat yang energik dan tegas. Namun dalam keseharian, ibu dari dua orang putra itu ternyata juga suka bergurau. “Baik hati dan tidak sombong, kok,” katanya.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Retno menempuh pendidikan diplomat Deplu selama setahun. Karir pertamanya adalah sebagai staf Biro Analisa dan Evaluasi untuk kerjasama ASEAN pada 1986, lalu Kepala Seksi Sekretaris Nasional ASEAN pada 1987-1990.

Ibu dari Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi itu kemudian ditempatkan sebagai staf penerangan KBRI di Canberra pada 1990-1994. Retno kemudian dipercaya menjadi Wakil Direktur Masalah Lingkungan Deplu pada 1994-1997, serta Kepala Bidang Ekonomi KBRI Den Haag di Belanda pada 1997-2001.

Hanya sebentar menjabat Direktur Kerjasama Intra Kawasan Amerika-Eropa (2002-2003), Retno diangkat menjadi Direktur Eropa Barat antara 2003-2005.

Sepanjang 2004-2005, Retno terlibat dalam Tim Pencarian Fakta Kepresidenan dalam kasus kematian aktivis HAM Munir di Belanda. Dia juga diandalkan untuk menjadi bagian dari utusan khusus presiden untuk masalah Aceh pada 2004 serta Moratorium Utang pada 2005.

Saat menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Norwegia dan Islandia pada 2005-2008, Retno mendapat Bintang Jasa “Grand Officer” dari Raja Norwegia. Istri dari seorang arsitek itu tercatat menjadi orang Indonesia pertama yang memperoleh penghargaan tertinggi kedua dari Kerajaan Norwegia.

Pada 2008-2012 Retno melanjutkan karir sebagai Direktur Jenderal Amerika dan Eropa, hingga kemudian diangkat sebagai Dubes RI untuk Kerajaan Belanda hingga saat ini. vns

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *