Rebut Sabah, Pengikut Sulu Dilatih Sejak 1970

Rebut Sabah, Pengikut Sulu Dilatih Sejak 1970

Bintang Pos, Surabaya – Konflik yang tengah merebak di Sabah, Malaysia saat ini membuat Negeri Jiran melakukan operasi terhadap pengikut Kesultanan Sulu. Ternyata, upaya untuk merebut Sabah dari Malaysia, sudah direncanakan oleh pengikut Kesultanan Sulu sejak 1970.

Sebuah kelompok pejuang elit dilatih di beberapa tempat di Filipina pada 1968 hingga 1970. Misi mereka hanya satu, mengembalikan wilayah Sabah ke pangkuan kekuasaan mereka dari Malaysia. Demikian diberitakan GMA News, Sabtu (9/3/2013).

Kelompok pejuang ini menyebut diri mereka dengan Jabidah. Mereka terdiri dari pejuang Moro yang berasal dari Kesultanan Sulu, Basilan dan Tawi-Tawi. Mereka dilatih di Manila, Corregidor dan Fort Magsaysay di Nueva Ecija.

Namun pelatihan yang dilakukan gagal total dan plot perebutan Sabah kembali berakhir dengan pembantaian Jabidah atau Pembantaian Corregidor pada 18 Maret 1968.

Menurut sebuah media Filipina, Pembantaian Jabidah menyangkut pada peristiwa pembantaian dari beberapa orang pejuang muda Moro yang direkrut dari Sulu dan Tawi-Tawi. Diperkirakan korban tewas pada pembantaian itu mencapai lebih dari 200 jiwa. Pelaku pembantaian diduga keras merupakan tentara Filipina yang ditugaskan untuk mengamankan wilayah Filipina Selatan.

Peristiwa pembantaian ini yang memicu terjadi perlawanan warga Muslim Filipina yang memang memiliki kedekatan historis dengan Sabah di Malaysia. Pembantaian itu pula yang membuat warga Muslim di Filipina memutuskan untuk memisahkan diri dari Filipina.

Berdasarkan laporan dari jurnalis Media State of The Nation Ian Cruz, sekira 200 anggota Jabidah dilatih oleh Mayor Eduardo Matelino di Camp Sophia, Siminul dan Tawi-Tawi. Dua orang berhasil selamat dalam peristiwa pembantaian tersebut. Hadji Abdul Hakim Akbar dan George Usman merupakan dua orang yang selamat dari pembantaian tersebut.

Usman dan Akbar mengaku, pada awalnya mereka mengira mengikuti pelatihan militer untuk menjadi anggota Angkatan Darat Filipina. Tetapi belakangan mereka sadar, keduanya rupanya masuk dalam operasi militer yang ditujukan untuk merebut kembali Sabah dari Malaysia dengan kode Operation Merdeka.

Kini, para pengikut Kesultanan Sulu melakukan aksi pendudukan di wilayah Sabah sejak 9 Februari lalu. Namun Polisi Malaysia sudah mengambil tindakan tegas terhadap pengikut Sultan Jamalalul Kiram III itu.

Presiden Filipina Benigno Aquino III menyalahkan Sultan Sulu Jamalul Kiram III dalam konflik Sabah. Menurutnya, Kiram sudah membahayakan warga Filipina yang berada di Sabah.

Hingga saat ini, polisi Malaysia berhasil menangkap sekira 50 orang pengikut Kesultanan Sulu yang menduduki Sabah. Sebelumnya diberitakan, pengikut Sultan Sulu yang berhasi ditangkap berjumlah 72 orang. Angka itu kemudian diralat oleh Polisi Malaysia. (oke-pgh)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *