Realitas Jokowi Effect, Tajir atau Letoy?

Realitas Jokowi Effect, Tajir atau Letoy?

Surabaya (beritajatim.com)–KPU Jatim telah menetapkan bahwa pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai pemenang Pilgub Jatim 2013. Raihan suara pasangan yang diusung Partai Demokrat, Golkar, PKS, PPP, PKNU, Gerindra, Hanura, dan sejumlah partai lainnya itu mencapai 8,1 juta suara sah atau 47,25%.

Tiga pasangan kandidat gubernur-wagub lainnya masing- masing Khofifah-Herman (PKB) dengan 6,5 juta suara (37,62%), Bambang DH-Said Abdullah (PDIP) dengan 2,2 juta suara (12,69%), dan Eggi Sudjana-M Sihat (Independen) dengan 422 ribu suara sah (2,44%). Hasil rekapitulasi KPU Jatim ini ternyata tak diterima dan digugat pasangan Khofifah-Herman (BerKah) dengan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta.

Terlepas dari masalah gugatan BerKah kepada KPU Jatim ke MK itu, yang layak dicermati dari kontestasi Pilgub Jatim 2013 ini adalah anjlok dan tak selarasnya ekspektasi politik suara Bambang-Said (PDIP). Duet cagub-cawagub dengan tagline Jempol ini hanya mengais 12% suara lebih sedikit, jauh di bawah persentase raihan kursi partai Nasionalis Sekuler ini di DPRD Jatim yang mencapai 17% sesuai hasil Pemilu 2009.

Ada apa dengan pasangan Bambang-Said? Masa kampanye pilgub, pasangan ini menerjunkan banyak jurkam andalannya, seperti Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi), Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, cagub Jabar dari PDIP yang kurang beruntung Rieke Diah Pitaloka, dan lainnya.

Realitas politik menunjukkan, kehadiran sejumlah tokoh besar PDIP tak mampu menderek suara Bambang-Said. Jangankan memenangkan kontestasi politik terakhir di Pulau Jawa ini, justru raihan suara Bambang-Said di bawah modal dasar politiknya terjun di pilgub. Ironis!

Kehadiran Jokowi pada kampanye Bambang-Said, terutama di kawasan Mataraman Jatim dan iklannya yang nongol di televisi dan koran diharapkan mampu mengangkat pasangan PDIP. Ada harapan Jokowi effect secara politik yang signifikan pada pasangan Bambang-Said, mengingat sejumlah lembaga survei dalam 2 bulan terakhir ini tentang figur capres memposisikan Jokowi di urutan teratas.

Ternyata hasil survei capres berbanding terbalik dengan signifikasi pengaruh Jokowi di Pilgub Jatim maupun kontestasi politik di provinsi lainnya. Jokowi belum bisa diharapkan sebagai vote getter yang bisa mendongkrak perolehan suara pasangan calon kepala daerah-wakil kepala daerah yang diusung PDIP.

Jokowi effect efektif dan tajir di ranah politik Jateng. Jokowi mampu mendongkrak suara pasangan Ganjar Pranowo- Heru Sudjatmoko yang diusung PDIP di Pilgub Jateng. PDIP Jateng yang memiliki modal dasar 23% suara di DPRD Jateng mampu meningkatkan persentase jadi 48% lebih untuk pasangan Ganjar-Heru di kontestasi Pilgub Jateng Mei 2013. Ada peningkatan suara lebih 100% dari suara PDIP di Pemilu 2009 dibandingkan raihan suara Ganjar-Heru di kontestasi pilgub.

Jokowi effect yang tajir di Jateng itu dalam banyak perspektif mudah dipahami. Pertama, Jateng menjadi rumah politik bagi Jokowi maupun PDIP. Kedua, pengaruh Jokowi dan PDIP di Jateng merupakan realitas politik yang menyejarah sejak era kemerdekaan hingga era reformasi.

Kaum Nasionalis adalah kekuatan terbesar dan strategis di Jateng, mirip dengan Islam Tradisional (NU) di Jatim. Dalam banyak kasus, klaim sosiologis Jateng adalah rumah besar kaum Nasionalis inheren dengan realitas raihan posisi politik yang dimenangkan irisan politik ini.

Di kontestasi pilgub provinsi lainnya, Jokowi effect ternyata tak memberikan efek berarti. Kelihatannya letoy, kendati sejumlah survei menempatkan Jokowi sebagai figur alternatif capres yang memiliki popularitas dan elektabilitas tinggi.

Jokowi terjun berkampanye di Pilgub Jabar untuk mendukung pasangan Rieke-Teten yang diusung PDIP. Tapi, hasil yang diperoleh menunjukkan pasangan Rieke-Teten hanya mampu finish di posisi kedua dengan 5.714.997 suara sah. Posisi pertama ditempati Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar dengan 6.515.313 suara. Suara sah keseluruhan mencapai 20.115.423 suara.

Begitu pun di Pilgub Sumut. Jokowi effect tak memberikan pengaruh berarti bagi pasangan Effendi Simbolon-Jumiran Abdi merebut kemenangan pilgub di sana. Berdasat penetapan KPU setempat, pasangan Gatot Pujo Nugroho-Erry Nuradi (PKS) meraih suara terbanyak dengan meraih 1.604.337 suara atau 33 persen. Pasangan Effendi Simbolon-Jumiran Abdi (nomor urut 2) yang diusung PDIP dengan 1.183.187 suara atau 24,34 persen.

Di Pulau Dewata (Bali) yang menjadi basis terkuat PDIP secara nasional selain Jateng dan Sulut, Jokowi yang terjun berkampanye untuk pasangan Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga dan Dewa Nyoman Sukrawan (PAS) yang diusung PDIP kalah vis a vis I Made Mangku Pastika dan I Ketut Sudikerta (PastiKerta).

Hasil rekapitulasi Pilgub Bali 2013 ini berujung ke MK. Tapi, lembaga peradilan konstitusi yang dipimpin M Akil Muchtar itu menolak secara keseluruhan gugatan yang diajukan tim pasangan Puspayoga-Nyoman Sukrawan. Berdasar putusan MK, PastiKerta sah terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur Bali periode 2013-2018 dengan hasil penghitungan suara oleh KPU Bali sebanyak 1.063.734 suara atau 50,02%.

Letoy-nya figur Jokowi di sejumlah pilgub seperti di Jabar, Sumut, Jatim, dan Bali mengindikasikan bahwa ada konten-konten politik lokal yang tak dan atau belum mempan disentuh dan dipengaruh figur Jokowi. Sehingga kehadiran Jokowi untuk pasangan cagub-cawagub yang diusung PDIP tak punya pengaruh signifikan. Jokowi belum terbukti bisa dijadikan vote getter untuk figur lainnya di PDIP yang bertarung di pemilukada, terkecuali di Pilgub Jateng.

Di tataran mikro politik di Jatim, misalnya, Jokowi yang sempat diterjunkan berkampanye di kawasan Mataraman, seperti Ngawi, Magetan, dan Ponorogo, nyatanya di semua kawasan Mataraman itu disapu bersih KarSa dan tak ada yang dimenangkan pasangan Bambang-Said.

KarSa, pasangan yang diusung Partai Demokrat dan sejumlah partai lainnya itu di tlatah Mataraman kalah hanya di Kabupaten Blitar. Itu pun yang mengalahkan adalah BerKah, bukan Bambang-Said. Di wilayah pemilihan Kota Surabaya yang di pemilukada selalu dimenangkan calon PDIP, ternyata Bambang-Said tak mampu berkutik. Lagi-lagi KarSa leading vis a vis Bambang-Said maupun pasangan lainnya di teritori politik paling bergengsi di Jatim ini.

Efek politik domino Jokowi hingga kini tajir dan ampuh sebatas di Jateng. Di wilayah politiknya, Jokowi effect masih sebatas utopia, bukan realitas politik senyatanya. Kita belum tahu apakah Jokowi effect ampuh, efektif, dan mampu meraih hasil maksimal di Pileg maupun Pilpres 2014 nanti? Kita tunggu saja. [bjt]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *