Ramadan, Mukenah Bali Banyak Diborong

Ramadan, Mukenah Bali Banyak Diborong

Bintang Pos, Surabaya –  Berkah Ramadan yang baru dimulai sehari lalu telah dirasakan para pedagang mukenah di Pusat Grosir Pasar Kapasan Surabaya. Beberapa pedadang mengakui, penjualan menjelang Ramadan meningkat dua kali lipat.
Menurut Suryani (40), pemilik Toko Ahas Barokah di Pasar Kapasan, Kamis (11/7/2013), selama Ramadan angka penjualan mukenah di toko ini mencapai 100 sampai 200 potong per-hari, atau bisa dikatakan penjualan meningkat dua kali lipat dibanding saat Sabtu-Minggu di hari biasa. “Kalau hari biasa sih sepi banget mbak, biasanya cuma menjual 10 potong dengan omset Rp 300 ribu per hari, kadang juga bisa ‘no selling’,” ujarnya.

Tetapi ia mencatat mulai tiga bulan terakhir ini penjualan meningkat. Ia mengaku dapat meraup untung sebesar Rp 40 juta hingga Rp 50 juta sebulan. Sementara, ketika ditanya model mana yang paling disukai pembeli, Suryani menunjuk mukenah yang laku dipasaran adalah model Bali, model Katun Jepang, Bordir, dan model Syahrini Katun Jepang. Masing-masing model dibandrol dengan harga bervariasi.

“Kalau model Bali harganya Rp 90 ribu/potong, Katun Jepang seharga Rp 160 ribu sampai Rp 300 ribu, sedangkan yang Bordir sebesar Rp 80 ribu sampai Rp 140 ribu dan Syahrini Katun Jepang seharga Rp 185 ribu hingga Rp 230 ribu,” paparnya.

Hal berbeda dirasakan pemilik toko Chandra, penjual baju-baju anak di lantai dua dilokasi yang sama. Denis Wijoyo Tjandra (42) mengatakan, penjualan baju-baju anak di tokonya memang meningkat, sekitar 2x lipat. Hal tersebut terlihat dari banyaknya kuantiti barang yang dipesan dan omset yang ia dapat. “Kalau selama Ramadan ini dalam sehari penjualan bisa sampai Rp 10 juta. Tapi sayangnya jika dibanding tahun lalu, tahun ini sedikit menurun. Kan barengan dengan momen kenaikan tahun ajaran baru masuk sekolah, jadi itu faktor yang paling memukul,” jelasnya.

Barang dagangan yang Denis jual memang mayoritas pakaian anak-anak. Sehingga momen kenaikan sekolah sangat mempengaruhi daya beli konsumen terhadap pakaian-pakaian kasual ini. “Berbeda dengan seragam sekolah. Kebanyakan orang-orang lebih mementingkan sekolah dulu,” tandasnya. (bjt)

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *