PPP merasa kehilangan KH Sahal Mahfudz

PPP merasa kehilangan KH Sahal Mahfudz

Surabaya  – Warga dan pengurus PPP Jawa Timur merasa kehilangan dan sangat berduka atas meninggalnya Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudz di kediamannya pada Jumat (24/1) pukul 01.05 WIB.“Kami imbau warga PPP Jatim, baik DPC, PAC dan Ranting PPP se-Jatim dan seluruh umat Islam di Jatim untuk mengadakan tahlil dan sholat ghaib bagi almarhum,” kata Ketua DPW PPP Jawa Timur Drs HM Musyaffa Noer MSi MM.

Menurut dia, shalat ghaib dan tahlil bisa dilakukan pengurus DPC, PAC dan Ranting PPP dan warga PPP Jatim di setiap surau, musholla dan masjid untuk mendoakan Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu.

“Wafatnya salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Maslakhul Huda itu meninggalkan duka mendalam bagi PPP sebagai partai yang berbasis NU. NU dan PPP itu tidak bisa dipisahkan, NU dan PPP ibarat ayah dan anak, sehingga PPP sebagai anak siap dibimbing kapan saja dan mendengarkan nasehat NU sebagai ayah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa aktivitas politik PPP yang dijiwai semangat politik NU yang sehat, santun, berakhlakul karimah serta dijiwai semangat tasamuh, tawasut, taawun dan itidal itulah yang membuat PPP sangat kehilangan kiai kharismatik yang moderat dan mengayomi.

“Semoga almarhum sebagai teladan umat mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Allahumma firlahu warkhamhu wakfu anhu. Allahumma la takhrimna ajrahu wa la taftinna bakdahu wahfirlana walahu,” katanya.

Sementara itu, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur menyatakan pesan penting yang diwariskan almarhum Rais Aam PBNU KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh yang wafat pada Jumat (24/1) adalah NU harus melakukan “high politics” (politik tingkat tinggi).

“Almarhum memberikan teladan yang cukup gamblang tentang arti konsistensi dalam berorganisasi,” kata Wakil Sekretaris PWNU Jatim H Nur Hidayat.

Menurut peneliti yang juga mantan Ketua PW IPNU Jatim itu, almarhum Kiai Sahal sepanjang menjabat Rais Aam PBNU selalu menegaskan pentingnya “high politics” bagi NU dengan makna yang diyakini dan dipegang teguh hingga akhir hayatnya.

“Sebagai entitas sosial-politik, NU memang tidak bisa melepaskan diri dari tarik-menarik kepentingan politik, tapi Mbah Kiai Sahal bisa mengelola situasi tarik-menarik itu dengan baik dan santun,” katanya.atn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *