Pengamat: tidak Ada Pemilih Rasional dalam Pilkada

Pengamat: tidak Ada Pemilih Rasional dalam Pilkada

Bintang Pos, Malang – Pengamat Politik Universitas Brawijaya Malang Wawan Sobari menyatakan saat ini tidak ada pemilih rasional dalam perhelatan pemilihan kepala daerah atau pilkada.


“Sangat sulit untuk menjumpai pemilih rasional murni dan pilihannya berdasarkan program berjangka panjang dari calon kepala daerah. Yang ada sekarang ini hanya pemilih praktis yang didasarkan pada sesuatu yang nampak pada saat itu,” tegas Wawan Sobari di Malang, Kamis.

Menurut dosen ilmu politik FISIP Universitas Brawijaya (UB) tersebut, kondisi ini juga terjadi dalam perhelatan pilkada di sejumlah daerah, bahkan rata-rata di wilayah nusantara kondisinya sama, yang hanya untuk kepentingan sesaat berupa materi tunai dan ditransaksikan pada saat itu juga.

Ia mengakui, jika ada calon kepala daerah berkampanye atau memaparkan program dan visi misinya lima tahun ke depan, masyarakat tidak akan peduli atau hanya lewat begitu saja, sebab yang ditunggu bukan program jangka panjangnya, tapi uang tunai yang diberikan pada saat itu.

Oleh karena itu, tegasnya, jangan dibayangkan pelaksanaan pilkada di Tanah Air ini akan menghasilkan calon terpilih yang dipilih warga secara rasional berdasarkan kapasitas, kemampuan dan program-programnya untuk jangka panjang.

Sebab, kata Wawan, yang lebih efektif untuk mendulang suara pemilih, bukan program-program calon yang bagus, tapi calon yang mampu merebut hati pemilih melalui “vote buying”.

Sehingga, tegasnya, ada kecenderungan para pemenang pilkada, termasuk di Kota Malang yang akan dihelat 23 Mei mendatang adalah para calon yang mampu “membeli” suara pemilih. Calon ini tidak hanya memberikan fasilitas uang tunai, tapi program sesaat yang bisa dinikmati secara langsung oleh masyarakat, meski yang menikmati itu hanya individu.

Ia mencontohkan, program salah satu Cawali-Cawawali yang memberangkatkan warga ziarah ke wali lima secara gratis, bahkan diberikan uang saku. Tidak tanggung-tanggung yang diberangkatkan mencapai seribu bus atau hampir mencapai 60-70 ribu orang.

“Oleh karena itu, pemilih sekarang ini sudah tidak rasional lagi, tapi praktis yang bisa memberikan keuntungan dan kenyamanan bagi dirinya secara individu, bahkan siapa yang bisa memberikan lebih banyak pada detik-detik akhir hari H, maka potensinya untuk menang juga terbuka lebar,” kata Wawan, menandaskan.(ant-pgh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *