Pemilih pemula perlu tahu dampak golput

Pemilih pemula perlu tahu dampak golput

Jakarta  – Direktur Utama Perum LKBN Antara Saiful Hadi mengatakan para pemilih pemula perlu tahu tentang manfaat dari penggunaan hak pilih dan dampak dari tidak memilih atau golongan putih (golput).“Itu penting untuk menimbulkan minat bagi mereka untuk mencari tahu sosok partai, pemimpin mana yang akan mereka pilih nanti, tidak hanya asal pilih calon legislatif dan pemimpin,” katanya di Jakarta, Rabu.

Setelah Sosialisasi Pemilih Pemula “Yuk Nyoblos” di kampus London School Public Relations (LSPR) di Jakarta, ia mengatakan pemilih pemula jangan dibiarkan untuk memilih “kucing dalam karung”.

“Para pemilih pemula harus mengetahui siapa sosok pemimpin yang layak dipilih, dan siap melayani, bukan minta dilayani. Dengan memilih akan berperan menentukan pemimpin yang baik,” katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Matriks Indonesia Agus Sudibyo mengatakan dengan menggunakan hak pilih, para pemilih pemula akan semakin merasa terlibat dalam pemerintahan dan politik.

“Para pemilih pemula akan merasa memiliki legitimasi untuk mempersoalkan kegagalan pemerintah yang baru terpilih,” ujarnya.

Apalagi dengan proses demokrasi yang terus berjalan, lanjut Agus, para pemuda semakin dibutuhkan perannya dalam bidang politik dan pemerintahan.

Oleh karena itu, ujar Agus, pemuda juga perlu memperkuat legitimasinya dalam politik dan pemerintahan dengan ikut serta mencoblos dalam Pemilu.

Salah satu mahasiswa LSPR, Andriyan (20) atau yang biasa dipanggil Achong, mengaku hanya mengetahui beberapa program partai politik saja.

Menurut dia, tidak semua partai telah mengomunikasikan programnya dengan baik, apalagi beberapa partai dan caleg yang hanya terlihat mengumbar janji-janji saja.

“Selama ini, dari komunikasi mereka juga, saya tidak begitu yakin mereka dapat menepati janji-janjinya,” ujar mahasiswa studi Hubungan Internasional ini.

Andriyan mengharapkan program pemimpin yang terpilih memprioritaskan masalah peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan.

Dia juga meminta pemerintah untuk serius menangani masalah diskriminasi etnis, agama dan ras di Indonesia yang masih sering terjadi.

“Itu hal-hal yang penting dan masih menjadi Pekerjaan Rumah,” ujarnya dalam sosialisasi yang merupakan kerja sama Kementerian Komunikasi dan Informatika, LKBN Antara, RRI, dan TVRI itu.

Dalam kesempatan itu, puluhan mahasiswa LSPR juga meminta peran media untuk independen dan seimbang dalam mempublikasikan informasi mengenai peserta Pemilu 2014.ant

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *