Pelonco Maut ITN, Mahasiswa Tak Pernah Mandi

Pelonco Maut ITN, Mahasiswa Tak Pernah Mandi

Malang -Mahasiswa baru Institut Teknologi Nasional yang mengikuti Kemah Bakti Desa atau KBD di obyek wisata Pantai Gua Cina, RT 49/RW 09, Dusun Rowotrate, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tidak pernah mandi dan ganti baju.Setidaknya itulah yang diketahui warga setempat. Nurul Hadi, 41 tahun, penjaga Masjid Nurul Jabar Nur, mengaku sangat risih saat melihat mahasiswa baru yang muslim, misalnya, menunaikan salat dalam keadaan sangat kotor dan bahkan ada yang salat dengan kaus sobek.

“Mereka seperti habis dari sawah. Badan mereka bluputan karena kena tanah, pasir, dan lumpur. Mukena yang dipakai mahasiswa perempuan, sudah pasti kotor. Saya sangat risih. Kalau kotor begitu, mbok salat berjamaah di lapangan saja,” kata Hadi Jumat pagi, 13 Desember 2013.

Ia mengaku sangat kecewa karena panitia tidak berkoordinasi dengan dirinya. Jangankan mandi atau ganti baju, banyak mahasiswa pria dan perempuan yang tak diberi kesempatan membilas diri sehabis kencing. Dampaknya, kamar mandi masjid bau pesing dan kotor. “Lha wong mau ambil wudu saja ditungguin panitia karena khawatir mahasiswa itu minum air wudu-nya,” ujar pria berumur 41 tahun itu.

Hadi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun sungkan memprotes karena panitia beralasan sudah begitu aturan pelonco yang dibuat. “Saya sempat tanya pada panitia yang berjenggot, eh malah dijawab bahwa mereka juga dulu digituin.”

Menurut Hadi, sebelum dan sesudah salat, semua mahasiswa baru selalu disuruh berbaris menurut jenis kelaminnya.

Mulyati, 56 tahun, juga bersaksi betapa panitia tidak memberi kesempatan pada mahasiswa untuk melepas hajat di kamar mandi. Selalu ada seorang panitia yang menjaga pintu kamar mandi saat mahasiswa kencing, sambil menghitung sampai angka tiga. Lewat hitungan ketiga, sang penjaga menggedor-gedor pintu dan membentak mahasiswa untuk keluar. Alhasil, Mulyati sempat melihat mahasiswa yang resletingnya belum terkancing atau bagian selangkannya masih basah, entah basah karena siraman air atau bekas kencing.

“Waktu buang air besar saja yang tidak dihitung, tapi tetap saja dijaga,” kata pemilik warung, yang sempat menangis melihat Fikri duduk selonjoran di teras warung kosong di sebelah warungnya dalam kondisi pucat pasi dan sangat lemas pada Jumat sore, 11 Oktober, atau sehari sebelum Fikri meninggal.

Dari beberapa mahasiswa Mulyati diberitahu bahwa semua peserta KBD dilarang mandi dan ganti baju.

Selain itu, makan pun dihitung, dengan menu langganan berupa pecal ditambah sepotong tempe goreng. Panitia pun menjatah minuman setengah botol air mineral kemasan 1,5 liter untuk sepuluh orang. Sedangkan panitia biasa makan dengan lauk ikan laut tanpa batasan jumlah minuman.

Maryono, Ketua Paguyuban Mitra Kelola Wanawisata Pantai Gua Cina, memberi kesaksian serupa. Panitia menerapkan perpeloncoan ala semimiliter. tpm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *