Parwati: Tak Ada Waktu Luang Jadi CEO dengan 4 Anak

Parwati: Tak Ada Waktu Luang Jadi CEO dengan 4 Anak

“MENJADI wanita karier dengan empat anak itu tidak ada waktu luang”. Itu adalah pernyataan Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) Parwati Surjaudaja. Di NISP, Parwati adalah pemegang keputusan utama, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk memainkan peranannya sebagai presiden direktur ini tidaklah sedikit.

“Beda tipis tuh (repotnya), semua intinya perencanaan, kalau kita bisa melaksanakan dengan baik, kita tahu prioritasnya (akan berjalan dengan baik). Di kantor kita punya support star yang baik, di rumah kita ada support star yang bagus juga. Kalau begitu sistemnya bisa berjalan dengan baik,” ungkap Parwati, beberapa waktu lalu.

Dengan kewajibannya sebagai ibu dari Albert (22 tahun), Sagara (15 tahun), Narendra (14 tahun), dan Letisha (12 tahun), bisa dipastikan waktunya untuk mengurus keluarga tidaklah sedikit. Jadi, wajar-wajar saja kalimat di atas tersebut keluar dari mulutnya secara spontan.

Saat melepaskan penat dari pekerjaan kantor dengan keempat anaknya, jalan-jalan (travelling) adalah salah satu kegiatan favorit keluarga ini.

“Ke tempat yang kita bisa belajar budayanya, belajar kulinernya juga, di samping alamnya, Karena itu kita bisa belajar banyak sekali dari alamnya, tidak sekadar pergi, makan dan main. Kita bisa tahu, di tempat itu sejarahnya seperti itu, makanya itu mereka berfikir seperti itu sekarang ini. Hal-hal seperti ini yang menarik,” ungkap dia.

Parwati menuturkan, terakhir kali dia melakukan perjalanan ke Manado. Sementara untuk luar negeri, dia terakhir kali memboyong keluarganya ke Jepang. “Karena mereka kepanasan terus, jadi ingin yang dingin. Anak-anak suka salju, jadi kita pergi ke daerah yang paling utara, itu Hokaido,” ungkap dia.

arwati juga mengakui sangat menghindari mal, menurutnya, tidak ada nilai tambah yang bisa diberikan kepada anak-anaknya dan hanya akan mengajarkan konsumerisme. Alhasil, jika waktu yang dimiliki tidak banyak, maka dia lebih memilih ke Bandung atau nonton bioskop.

“Kebetulan orangtua di bandung, alamnya juga lebih indah. Kadang kalau waktunya tidak banyak, paling kita nonton bareng, kita bisa sharing, tadi si dia begini, si dia begitu. Kita bisa bahas, kita tahu pikiran mereka, dan mereka juga bisa tahu nilai-nilai mereka, apa yang benar apa yang salah,” beber dia. (okz-pgh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *