KH Ali kritik Sumpah Anggota Dewan

KH Ali kritik Sumpah Anggota Dewan

Jakarta  – Sebanyak 555 anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah periode 2014-2019 dilantik dan diambil sumpahnya di Gedung DPR, Jakarta, Rabu 1 Oktober 2014.
Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali berperan mengambil sumpah seluruh wakil rakyat itu. Sejumlah perwakilan anggota DPR maju ke depan.

Masing-masing tokoh agama berdiri di samping para perwakilan anggota DPR terpilih itu dengan mengangkat kitab suci masing-masing agama. Ketua MA kemudian membacakan sumpah yang diikuti seluruh Wakil Rakyat.

Berikut isi sumpah yang diucap anggota DPR/DPD:

“Demi Allah (Tuhan) saya bersumpah/berjanji: bahwa saya, akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dengan berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; bahwa saya dalam menjalankan kewajiban akan bekerja dengan sungguh-sungguh, demi tegaknya kehidupan demokrasi, serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi, seseorang, dan golongan; bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Imam Besar Masjid Istiqlal, Ali Mustafa Yaqub menyoroti sumpah yang diucap wakil rakyat itu. Khususnya kepada anggota dewan yang beragama Islam.

Saat berbincang di Apa Kabar Indonesia Pagi tvOne, Kamis 2 Oktober 2014, Ali Mustafa menilai, kalimat yang diucapkan anggota DPR beragama Islam itu bukan sumpah. Menurutnya, di dalam Islam, tidak ada sumpah dengan kata “demi”.

“Itu tidak ada. Mesti Wallahi, atau Lillahi, atau Tallahi. Itu baru sumpah,” ujar Ali Mustafa.

Ali Mustafa menjelaskan, kata demi itu bukan bahasa sumpah menurut agama Islam. Demi itu kan artinya untuk. Kata dia, di Islam, mengucapkan kata sumpah itu memimiliki konsekuensi teologis.

Meskipun ada kata Allah di belakang demi, menurut Ali Mustafa, itu bukan bagian dari sumpah yang dibenarkan Islam.

“Menurut Islam, kata-kata demi itu bukan kalimat sumpah. Kalau terjemahan, apakah memiliki konsekuensi teologis, itu menjadi masalah,” tuturnya.

Tak hanya itu, dia juga menilai, kitab suci Alquran yang didekatkan kepada anggota dewan, juga tidak tercantum menurut Islam. “Dipayungi kitab suci, itu tidak ada aturannya. Itu hanya untuk menakut-nakuti saja,” kata dia.

Sumpah yang diucapkan secara massal juga menjadi sorotannya. Ali Mustafa menilai, sumpah itu harus diucapkan satu persatu. Sumpahnya pun harus didengar langsung oleh pihak yang menyumpah, yakni rakyat. “Itu nggak lama kok. Tinggal metodenya saja,” kata dia.

Kalimat sumpah yang diucapkan anggota dewan, menurut Ali, tidak mengandung arti yang mengikat. Seharusnya, sumpah anggota dewan harus lebih menakut-nakuti.

“Misalnya, apabila saya melanggar sumpah atau janji saya ini, dengan korupsi satu rupiah saja, maka saya berhak menerima laknat Allah di dunia dan akhirat. Merinding semua itu. Kalau begitu, mungkin yang mendaftar di DPR berkurang itu,” kata Ali.

Bahkan dia punya pengalaman. Kala itu, dia bertanya kepada dua temannya yang merupakan mantan anggota DPR.

“Dua periode dia menjadi anggota DPR. Orangnya masih hidup. Saya tanya, waktu disumpah dulu mengucapkan sumpah itu? Tidak, kata dia. Ketika mengatakan demi Allah saya bersumpah, dia mengatakan, wawawawa wawawawa.. Kan nggak ada yang tahu itu,” ujar Ali.

Oleh karena itu, dia menyarankan kepada anggota dewan terpilih, khususnya yang beragama Islam, agar kembali disumpah menurut ajaran dan ketentuan Islam. “Jadi sekarang bisa saja kalau mau. Besok disumpah satu persatu,” kata dia.

Mengapa setelah sekian lama baru kali ini sumpah anggota dewan tidak ada yang merevisi? “Ya saya tidak tahu. Baru direvisi oleh tvOne ini,” kata Ali Mustafa. vns

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *