Jengkol, BBM, dan Komitmen Pemerintah

Jengkol, BBM, dan Komitmen Pemerintah

Bintang Pos, Jakarta  – Jagad sayur-mayur, tiba-tiba saja dihebohkan oleh harga jengkol dan petai. Mula-mula harga jengkol yang diwartakan naik di sejumlah daerah menjadi Rp50 ribu per kilogram. Melebihi harga daging ayam. Biasanya, jengkol hanya dihargai Rp20 ribu. Kemudian, harga petai ikut-ikutan melonjak. Biasanya, Rp40 ribu kini memanjat Rp80 ribu.

Dahlan Iskan, sebagai Menteri BUMN, heran kenapa harga si bau meroket begitu tinggi? Padahal, katanya, istrinya suka banget jengkol. Sekali membeli, bisa lima kilo. Dasar Menteri BUMN, terpikir oleh Dahlan untuk mendirikan BUMN khusus menangani jengkol dan petai agar harga dua komoditas itu bisa stabil.

Ah,mungkin Dahlan bercanda. Seberapa penting sih jengkol dan petai? Bahkan untuk yang penting sekalipun, pemerintah tidak berani membut keputusan yang cepat. Contohnya, harga BBM. Hingga kini harga BBM belum juga dinaikkan. Alasannya, suara belum bulat lantaran PKS (Partai Keadilan Sejahtera) sampai detik terakhir belum menyatakan persetujuannya.

Aneh. Pemeritah kelihatannya mau aman benar. Padahal, tanpa harus ramai-ramai, berdasarkan Undang Undang APBN 2013 pemerintah sudah bisa menaikkan harga BBM, apabila dipandang perlu. Perkara konsultasi dengan DPR bisa dilakukan kemudian. Lantas kenapa? Jawabnya cuma satu, takut.

Takut, disalahkan bila kelak terjadi sesuatu. Takut, pamornya turun pada Pemilu 2014. Apalagi Partai Demokrat sedang porak poranda. Padahal, setiap hari, konsumsi BBM terus meningkat. Januari–Maret saja sudah tekor 6%. Entah, pada bulan-bulan April–Juni, mungkin bisa lebih tinggi lagi. Makanya, di sejumlah daerah, sekarang premium mulai langka. Para spekulan pun mulai bermain. Tahu, BBM bakal dinaikkan mereka ramai-ramai melakukan penimbunan.

Nah, apakah pemerintah akan membiarkan kondisi seperti ini terus berlangsung. Hanya karena kurang satu suara, PKS. Konon, menurut hitung-hitungan di atas kertas, kendati harga BBM bersubsidi dinaikkan menjadi Rp6.500 untuk premium dan Rp5.500 untuk solar, pemerintah masih perlu menambal APBN dengan utang.

Diperlukan tambahan surat utang sebesar Rp60 triliun. Bayangkan, surat utang itu akan dibungai berapa persen jika inflasi akibat naiknya BBM mencapai 7,2%. Jadi masih akan berpikir ulangkah pemerintah?

Mungkin, karena itulah Dahlan melontarkan wacana mem-BMUN-kan urusan petai dan jengkol. Kalau perlu ada PTP yang khusus menanam jengkol dan petai. Walaupun dua komoditas ini tidak termasuk sembako. Dari pada mengurus BBM yang tak kunjung usai.(brj)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *