98 Mahasiswa Asing KKN di Lereng Gunung Wilis

98 Mahasiswa Asing KKN di Lereng Gunung Wilis

Bintang Pos, Surabaya – Sebanyak 98 mahasiswa asing dari sejumlah universitas mengikuti Community Outreach Program (COP) atau lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Petungroto, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Pelaksana Harian Kepala Unit Hubungan Masyarakat dan Informasi Studi Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya Jones Syaranamual mengatakan, melalui COP peserta ikut terlibat diajak untuk belajar hidup berinteraksi bersama masyarakat beda budaya, pola pikir, status sosial ekonomi dan tingkat pendidikan, serta belajar mengasah kepekaan sosial dalam membantu masyarakat desa menyelesaikan masalah.

” Secara global vision, diharapkan kegiatan ini mampu menjadi embrio bagi terciptanya bangunan perdamaian, atau peace building di masyarakat,” ungkap Jones Syaranamual, Selasa (23/7/2013)

Secara keseluruhan, COP diikuti oleh sebanyak 157 mahasiswa. Terdiri dari 157 mahasiswa dari Universitas Kristen Petra, selebihnya 98 mahasiswa dari sejumlah universitas luar negeri.

Antara lain, 27 mahasiswa Dong Seo University Korea Selatan, 29 mahasiswa Inholland University Belanda, 10 mahasiswa Hongkong Baptist University Hongkong, 15 mahasiswa International Cristian University Jepang, 1 mahasiswa St Andrew’s University Jepang, 4 mahasiswa Chinese University of Hongkong, 3 mahasiswa Lingnan University of Hongkong, 4 mahasiswa Guangxi Normal University dan 5 mahasiswa Guangxi University of Science and Tchnology.

Mereka terbagi menjadi 12 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 26-27 mahasiswa. Mereka berbaur dengan masyarakat di enam dusun dalam wilayah Desa Petungroto kemudian melaksanakan progam kerja yang telah dirancang sesuai dengan etema sentral yang diusung yaitu “Education for Batter Future. Program tersebut fokus terhadap pembehan infrastruktur pendidikan “Kelas Jauh” SMPN 2 Mojo.

Kepala Desa Petungroto Sungep mengatakan, keberadaan para mahasiswa sangat membantu program peningkatan kesejahteraan dan pendidikan masyarakat. Salah satu program mahasiswa yang paling dirasakan adalah perbaikan infrastruktur “Kelas Jauh” SMPN 2 Mojo.

” Angka putus sekolah disini cukup tinggi. Setelah lulus SD, banyak anak yang tidak melanjutkan ke jengjang SMP. Selain jaraknya temptnya yang jauh yaitu, sekitar 12 kilometer ke SMPN 2, juga tidak ada transportasi umum. Sehingga, banyak yang memilih membantu orang tuanya bekerja di ladang. Tetapi, setelah ada kelas jauh SMPN 2 ini, mereka bisa melanjutkan sekolah,” ungkap Sungep.

Kelas Jauh SMPN 2 Mojo berdiri sejak tahun 2004 lalu. Saat itu, bangunan sekolah sangat sederhana sekali, karena menempati rumah penduduk. Kemudian pada tahun 2008, melalui program PNPM Mandiri, pemerintah desa membangun tiga lokal ruang yang digunakan untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Menempati luas lahan 850 meter persegi dari yang dibeli melalui dana PNMP, dan sebagian hibah masyarakat.

” Melalui bantuan para mahasiswa, kini bangunan bertambah satu lokal, yaitu ruang guru. Selain, mahasiswa juga memberikan bantuan penerangan dengan sistem solar cell dan pavingisasi pada halaman dan infrakstruktur jalan menuju ke sekolah. Jika diuangkan bisa mencapai ratusan juta rupiah,” aku Sungep dengan senang.

Selama kurun waktu satu bulan yaitu, sejak 1 Juli hingga 31 Juli mendatang mahasiswa turut bekerja bersama masyarakat. Mereka antusias memberikan sumbang tenaga mulai dari, perbaikan akses jalan menuju SMPN 2 Mojo, merakit penerangan sistem solar cell, dan membangun ruang kelas guru serta pengecatan. Sebagian lain, memberikan ketrampilan kepada anak-anak dan membantu meringankan pekerjaan warga

Diakui Sungep, keberadaan “Kelas Jauh” SMPN 2 sangat diharapkan. Saat ini, jumlah total siswanya mencapai sekitar 100 orang. Padahal, saat awal dibuka hanya 30 orang. Mereka berasal dari Desa Pamongan, Ngetrep, Ponggok hingga Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Jumlah gurunya pengajarnya kurang lebih 30 orang, mereka berasal dari guru SMPN 2 Mojo, asal yang mengajar secara bergiliran.

Sejumlah mahasiswa asing mengaku, pengalaman COP di lereng Gunung Wilis adalah pengalaman baru. Sehingga, bukan perkara gampang. Sebagian mereka ada yang jatuh sakit saat pertama menyesuaikan diri. Tetapi kini mereka sudah terbiasa dan mampu menjalani kehidupan bersama masyarakat secara wajar.

” Ketika awal, banyak yang perutnya kembung. Mereka masih menyesuaikan kehidupan disini dengan cuaca yang relatif dingin, karena berada di pegunungan. Tetapi, sekarang sudah terbiasa. Mereka makan makanan masyarakat sini, mulai dari tempe oncom, sayur-sayuran hijau. Pokoknya apa yang dimakan warga, mereka ikut makan,” kata Budi, salah satu pembimbing mahasiswa.

Seperti Sunar, mahasiswi Universitas Pendidikan Guangxi Jepang ini. Dia sangat menyukai kerupuk dan sate ayam buatan masyarakat. Menurutnya, makanan di desa tidak kalah enak dari makanan di Hongkong maupun Jepang. Tidak salah jika akhirnya dia sangat berkeinginan belajar masak indomie rebus.

” Saya ingin belajar masak indomi. Selain itu, nasi goreng dan telur. Semuanya saya suka,” ujar mahasiswi jurusan Bahasa Indonesia dan budaya yang pernah mengunjungi Pulau Bali itu. Sunar mengaku, memilih jurusan Bahasa Indonesia, karena dianggap mudah. Di kampusnya, ada 49 mahasiswa yang mengambil jurusan sama dengannya.

Dari sisi ekonomi, keberadaan mahasiswa juga sangat membantu. Warga yang rumahnya ketempatan, mendapatkan uang makan dari panitia Rp 25 ribu setiap hari untuk satu orang mahasiswa. Masing-masing rumah yang dipilih, dihuni sebanyak 26-27 mahasiswa atau satu kelompok. Sedangkan biaya tinggal, umumnya digratiskan, karena warga merasa pekerjaanya dibantu.

COP sendiri dilaksanakan oleh Uiversitas Kristen (UK) Petra sejak tahun 1994, hanya dikuti oleh mahasiswa UK Petra saja kemudian berubah menjadi CDP (Community Development Program). Setelah Dongseo University-Korea Selatan bergabung di tahun 1998 maka istilah KKN diubah menjadi COP, sebagai suatu realisasi program sister city Surabaya-Pusan. Pada tahun 1999, Inholland University-Belanda bergabung dan kemudian diusulkan oleh Hongkong Baptist University pada tahun 2002 serta Jepang pada tahun 2004.

Kegiatan COP yang digelar oleh UK Petra merupakan bagian dari salah satu program service learning yang dipelopori oleh IPSL (International Partnership of Service Learning), suatu lembaga nirlaba bermarkas di New York, USA yang mensponsori program service learning di berbagai Negara.

UK Petra terpilih menjadi local chapter untuk wilayah Indonesia untuk melaksanakan program tersebut melalui kegiatan COP. Sejak tahun 2004, lokasi desa binaan COP dialihkan ke Kabupaten Kediri, setelah hampir 6 tahun di laksanakan di Kabupaten Magetan. Tahun 2014 mendatang, rencananya akan berpindah tempat ke wilayah selatan, seperti Kabupaten Trenggalek atau di Kabupaten Ponorogo yang memiliki wilayah gunung atau pesisir pantai. (bjt)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *