Lomba “World Universities Debating Championship 2022”, Mahasiswa Ubaya wakili Indonesia

Lomba “World Universities Debating Championship 2022”, Mahasiswa Ubaya wakili Indonesia

Bintangpos.com, Surabaya – Mahasiswa Universitas Surabaya akan mewakili Indonesia di ajang “World Universities Debating Championship 2022” setelah memborong gelar juara pada kompetisi yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikbud Ristek secara daring pada 24 Agustus hingga 4 September 2021.

“Kami tentunya sangat bersyukur karena bisa menjadi perwakilan resmi Indonesia untuk lomba World Universities Debating Championship (WUDC) tahun 2022 yang akan diselenggarakan di Belgrade, Serbia,” kata salah satu mahasiswa Ubaya Hartono Ongkojoyo melalui keterangannya, Jumat.

Hartono merupakan perwakilan tim Ubaya dalam kompetisi National University Debate Championship (NUDC) 2021, yakni ajang debat parlementer dengan format british parliamentary.

Kompetisi tersebut diikuti sebanyak 112 tim dari perguruan tinggi negeri dan swasta ternama di Indonesia. Satu tim terdiri dari dua orang melawan tiga tim lain di dalam satu ruangan untuk beradu argumentasi.

Mosi atau topik dalam kompetisi cukup banyak, mulai dari ekonomi, politik, international relations, hingga pendidikan.

Semua mosi atau topik tersebut bersifat impromptu dan diberikan 15 menit sebelum debat dimulai. Kompetisi debat ini dilaksanakan dengan menggunakan bahasa Inggris.

“Pada kompetisi itu, kemampuan berbahasa Inggris bukan satu-satunya penentu dalam penilaian, tetapi yang dinilai dewan juri adalah kualitas argumentasi dari peserta,” ujarnya.

Ia mengaku jika sejak lama telah memiliki minat terhadap argumentasi dan public speaking sehingga tertantang mengikuti ajang NUDC 2021.

Saat ini, Hartono Ongkojoyo bersama rekannya Vioni Daffa Ghaisani sedang mempersiapkan diri untuk berkompetisi pada WUDC 2022 dan membawa nama Ubaya di tingkat Internasional.

Sementara itu Winnie Himawati selaku perwakilan dari tim Ubaya pada Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) 2021 mengatakan jika tantangan atau kesulitan yang dihadapi adalah melakukan persiapan intensif selama satu bulan untuk kompetisi yang dinilai sangat prestisius itu.

Diperlukan mental yang kuat dalam menghadapi kompetisi. Menurutnya, banyak peserta berasal dari universitas ternama di Indonesia yang memiliki kemampuan debat cukup hebat.

“Oleh sebab itu, tim melakukan latihan rutin bersama pelatih serta teman-teman USDS dalam mempersiapkan KDMI maupun NUDC 2021,” katanya.

Selain itu, Winnie menceritakan ada topik yang dianggap sulit saat kompetisi berlangsung yaitu relasi internasional. Topik ini menjadi sulit karena informasi serta pengetahuan yang diketahui terkait topik tersebut tidak terlalu banyak.

Topik tersebut sangat dinamis dan terus berubah sehingga sangat sulit jika tidak update dengan topik tersebut secara konsisten.

“Sebelum dan saat perlombaan kami merasa khawatir, cemas serta takut jika muncul mosi atau topik yang tidak dipahami. Ditambah lagi kekhawatiran apabila terjadi kendala pada koneksi internet atau perangkat pendukung seperti laptop,” katanya.

“Namun, semua bisa teratasi karena ada dukungan keluarga, teman, pelatih dan segenap anggota USDS yang terus meyakinkan kami untuk tidak perlu khawatir dan tetap melakukan yang terbaik dalam kondisi tenang,” ujar Winnie.(ant)

Selama Pandemi, Sejumlah 4.015 Perempuan Jadi Kepala Keluarga di Jatim

Selama Pandemi, Sejumlah 4.015 Perempuan Jadi Kepala Keluarga di Jatim

Bintangpos.com, Surabaya– Berdasarkan data dari Dashboard Nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), sejak Maret 2020 hingga 10 September 2021 ada sebanyak 7.044 anak usia 0-17 tahun yang menjadi yatim, piatu dan yatim piatu selama pandemi Covid-19.

“Kalau di Surabaya, ada sebanyak 1.244 anak yatim, piatu dan yatim piatu. Dari jumlah itu, 55 persennya adalah anak yatim atau ditinggal ayahnya. Artinya, ada 684 perempuan menjadi single parent atau janda baru di Surabaya,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jatim, Andriyanto ditemui di kantornya, Jumat (10/9/2021).

Berdasarkan Dashboard Nasional Kementerian PPPA itu juga, menurut dia, ada sebanyak 57 persen dari jumlah 7.044 anak di Jatim itu adalah anak yatim, 36 persen piatu dan 7 persen yatim piatu.

“Artinya, kalau dihitung dari jumlah yang menjadi anak yatim, ada perempuan single parent baru yang ditinggal suaminya meninggal Covid-19 (sebagai kepala keluarga) sebanyak 4.015 orang di Jatim. Itu data sampai tanggal 10 September ini,” tuturnya.

Langkah yang dilakukan DP3AK Jatim adalah menengok anak-anak yatim dari keluarga yang tidak mampu atau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Permalasahan itu juga sudah diantisipasi oleh Dinas Sosial.

“Ibu-ibunya harus kita tingkatkan usaha ekonomi keluarganya. Kami juga melakukan pelatihan peningkatan produktivitas usaha keluarga di Kabupaten Blitar dan Ngawi belum lama ini. Yakni, membuat sabun mandi, sabun cuci piring dan sabun cuci tangan di Blitar. Di Ngawi membuat baju dari bahan yang murah,” jelasnya.

DP3AK juga akan membuat rumah kurasi Pekka (perempuan sebagai kepala keluarga) berbasis digital. “Jadi, nantinya mereka ingin pelatihan apa, semisal pelatihan memasak, tinggal mengklik saja. Ada juga pelatihan menjahit, membuat kue dan lain sebagainya. Ini untuk membuat mereka berdaya secara ekonomi semenjak ditinggal suaminya,” pungkasnya. (brj)

Setelah Serangan 11 September, Begini Cerita Imam Indonesia di New York

Setelah Serangan 11 September, Begini Cerita Imam Indonesia di New York

Bintangpos.com, Jakarta – New York, Selasa pagi, 11 September 2001. Jarum jam belum bergerak jauh dari pukul 09:00 pagi.

Ketika kepanikan mengguncang warga kota karena dua serangan atas Twin Towers World Trade Centre (WTC), komunitas Muslim mulai menjadi sasaran kemarahan warga setempat.

Saat itu telah tersiar kabar kelompok ekstremis al-Qaida yang bertanggung jawab atas serangan paling mengerikan dalam sejarah Amerika Serikat dan dunia.

Serangan di dua gedung WTC menewaskan lebih dari 2.600 orang. (Getty Images)

Imam Indonesia, Shamsi Ali, yang pagi itu tengah menuju tempat kerjanya di PTRI, PBB, termasuk di antara yang merasakan dampaknya, bukan secara fisik, namun berupa cacian.

“Sangat menyedihkan sangat mencekam,” cerita Shamsi Ali mengenang kejadian pagi hari, 20 tahun lalu itu.

Dua pesawat menabrakkan Gedung Twin Towers World Trade Centre New York. North Tower yang pertama ditabrak pada 08:46 waktu setempat dan South Tower pada pukul 09:03. Serangan di dua gedung ini menewaskan lebih dari 2.600 orang.

Dua momen yang sering diceritakan dan selalu diingat Shamsi Ali – yang saat ini menjadi direktur Jamaica Muslim Centre – adalah ketika mendengar cacian supir taksi yang tak tahu dirinya Muslim, dan pelukan oleh tetangga Katolik yang menyadarkannya akan hal yang menurutnya sangat penting.

Persepsi tentang Islam yang salah. Islam dan Muslim dikaitkan dengan kekerasan.

Warga menyelamatkan diri dari gedung yang hancur. (Getty Images)

Ketika berjalan kaki pulang ke rumahnya dari Manhattan ke Queen yang cukup jauh, ada taksi yang mau berhenti dan mengantarnya.

Supir taksi yang tidak mengetahui dirinya Muslim “Bersedia mengantar saya dengan senang hati. Namun ketika di mobil, dia mulai mencaci maki Islam dan orang Islam.”

Saat itu telah santer diberitakan kelompok ekstremis al-Qaida yang bertanggung jawab.

Ketika tiba di rumah tetangganya, suami istri yang sudah sepuh bergegas menghampiri dan memeluknya.

“Dia mengatakan tiga kali, ‘Saya tak percaya’, sambil menangis. ‘Saya tak percaya kalau orang Islam yang melakukan ini. Kalau semua orang Islam seperti kamu tak mungkin dia melakukan itu’,” cerita Shamsi mengutip tetangganya.

“Saat dipeluk orang tersebut, betul-betul perasaan saya bercampur aduk, saya memikirkan hari-hari yang akan datang, mencekam,” katanya lagi.

Sang tetangga pemeluk Katolik yang berasal dari Irlandia sempat dicurigai Shamsi saat awal pindah ke Amerika Serikat pada 1996.

“Saya mengistilahkan, saya diajari menjadi Muslim yang lebih baik, tidak diajari Islam, tetapi diajari menjadi Muslim yang baik,” katanya.

Sejak beberapa tahun sebelumnya, tetangga suami istri yang berusia 70an itu, selalu menyapu di depan rumah, termasuk di depan kediaman keluarga Shamsi.

“Ada kecurigaan di benak saya, ini non-Muslim, tapi kok baik sekali, menyapu depan rumah saya Awalnya kita tidak pernah interaksi dengan non-Muslim, saya jadi curiga, sebentar lagi mereka akan menggoda saya. Ternyata berhari-hari, berbulan-bulan kemudian, mereka tak pernah ngomong soal agama.”

Sikap tetangganya ini, kata Shamsi, justru, “mengingatkan saya, arti agama yang sesungguhnya. Agama itu bukan yang kita lakukan di rumah-rumah ibadah, tapi agama itu adalah apa yang kita lakukan di tengah masyarakat, menampilkan perilaku yang baik.”

“Dua hal ini adalah pelajaran penting yang saya bawa dalam langkah dakwah-dakwah saya di Amerika. Betapa banyak teman-teman kita di luar sana yang salah paham dan kewajiban kita untuk memberitahu Islam yang sesungguhnya.

“Yang paling efektif bukan ceramah berapi-api tapi bagaimana menampilkan Islam dengan perilaku dan karakter,” katanya lagi.

Tantangan, “paling berat” menyusul Serangan 11 September, kata Shamsi, adalah “persepsi yang terbalik, bagaimana ketika orang Muslim duduk di subway (kereta bawah tanah), di bus, orang pasti akan berpikir, subway akan diledakkan atau dia akan menusuk orang.”

“Luar biasa citra yang terbangun ketika itu,” kata Shamsi yang disebut dalam New York Magazine, terbitan Mei 2006, sebagai salah seorang pemuka Islam berpengaruh.

New York Magazine menyebutnya sebagai ulama moderat yang “memimpin 1.000 jemaah di Indonesian Culture Centre di Woodside, 4.000 jemaah di Jamaican Muslim Centre dan berkhotbah di depan 6.000 jemaah di Masjid 96th Street. Sejak 9/11”. Ia menjadi utusan tak resmi penegak hukum dan kantor wali kota.

“Seandainya Islam itu seperti Gedung WTC, Islam ketika itu sedang runtuh juga.”

“Saya merasakan beratnya ketika itu, bagaimana membangun lagi. Kalau WTC secara fisik bisa dibangun lagi, tapi membangun image [citra] yang diruntuhkan ini Bagaimana image yang selama ini kita bangun diruntuhkan. Sangat menyedihkan.”

Hari itu, komunitasnya banyak mendengar “teman-teman yang menghadapi kekerasan. Ada masjid yang dirusak, ada perempuan yang dipukuli. Macam-macam kekerasan yang terjadi pada hari pertama.”

Menurut catatan Biro Penyelidik Federal, FBI, terdapat 28 laporan kejahatan anti-Muslim pada tahun 2000 dan jumlahnya pada tahun 2001, naik hampir 500.

Dikirim bunga oleh pendeta

Shamsi Ali (tengah) bersama Russell Simmons dan Rabi Marc Schneier dalam gerakan “Today, I Am a Muslim, Too” di Times Square pada 6 Maret 2011. (Getty Images)

Sejumlah masjid yang sempat diserang, menurut Shamsi, termasuk yang menutup diri dan tidak berupaya mengenalkan diri ke para tetangga.

“Akhirnya orang yang dibombardir dengan informasi yang salah tentang Islam, jadi curiga Terkadang ketidaktahuan orang, kebencian orang, disebabkan karena kita yang kurang berinteraksi atau bergaul dengan orang,” cerita putra kelahiran Makassar ini.

Namun ia mengatakan masjid Indonesia al-Hikmah yang dipimpinnya, justru didatangi dua pendeta dari gereja yang terletak tak jauh.

“Mereka membawa karangan bunga ke kita, ada masjid yang diserang, tapi masjid kita dibawakan karangan bunga. Pendeta itu mengatakan, ‘Saya tahu kamu dalam situasi sulit, apa yang dapat kami bantu?’, justru gereja menawarkan.”

Melalui kunjungan ini, kata Shamsi, pihaknya kemudian menjalin komunikasi dan dialog.

Imam Shamsi juga merasa dirinya “terekspos”.

“Saya sendiri, yang telah tinggal di New York beberapa tahun sebelum Serangan 11 September, terekspos karena sebelumnya saya tak bisa membayangkan berkomunikasi dengan pemeluk agama lain secara masif, bahkan dengan masyarakat Yahudi.

“Kapan kita bisa bermimpi akan berkomunikasi, berdialog, bahkan menulis buku dengan pendeta Yahudi. Ini kan belum pernah kita impikan. Tapi ketika terjadi Serangan 11 September, semua ini membuka [peluang],” tambahnya lagi.

Shamsi mendapatkan pendidikan pesantren di Sulawesi Selatan dan melanjutkan studi di Pakistan. Ia kemudian mendapat tawaran untuk bekerja di Arab Saudi selama dua tahun.

Pengalaman di dua negara ini, yang disebut Shamsi, membuatnya mudah curiga terhadap pemeluk agama lain, ketika pindah ke New York pada 1996.

Tetapi upayanya membuka diri bukan tanpa masalah dari jamaah sendiri.

Ketika itu Shamsi Ali juga menjadi wakil imam di Islamic Cultural Center (ICC), masjid yang terletak di 96th Street. Sejumlah jamaah tak setuju dengan kontak dengan Yahudi ini.

Di tengah penentangan ini, kontak eratnya dengan Rabi Marc Schneier membawa keduanya mengorganisir saling kunjung ke masjid dan sinagoga dan berujung pada pembuatan buku berjudul Sons of Ibrahim yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Anak-anak Ibrahim.

Keduanya juga diundang ke sejumlah negara, menjadi model untuk menjalin komunikasi antar agama.

Rabi Burton Visotzky, profesor kajian Yahudi mengatakan, “Orang Barat sering bertanya-tanya apa pesan yang disampaikan di masjid-masjid, dan orang Yahudi sering khawatir.”

“Apa yang saya dengar dari yang disampaikan Shamsi Ali adalah khotbah tentang persaudaraan,” kata Visotzky seperti dikutip Reuters.

Sementara publikasi komunitas, The Jewish Week, menggambarkan Shamsi sebagai “pemimpin yang karismatik dan penuh perhatian.”

Shamsi menyebut apa yang dilakukan komunitas Yahudi dan Muslim ini mengubah banyak hal.

“Gerakan yang dimulai di New York menjadi global movement [gerakan global] antar Muslim-Yahudi. Terakhir di Tunisia tahun 2019. Mereka berabad-abad belum pernah berdialog. Saat kami ke sana, para syekh dan rabi saling berterima kasih,” ceritanya.

Setelah tiba di New York pada 1996 dan memimpin Masjid al-Hikmah, Shamsi diundang memberi ceramah tentang Islam di New York Police Department.

Kontrak ini yang membuat NYPD memintanya mewakili komunitas Muslim dalam doa bersama antaragama di Stadion Yankee, yang dihadiri sekitar 15.000 orang, dua minggu setelah Serangan 11 September.

Pintu dialog antar agama

Shamsi juga aktif dalam kegiatan antaragama, termasuk National Dialogue of Muslim and Catholic serta konperensi Imam dan Rabi di AS dan luar negeri.

Ia menyebut, “11 September membuka pintu kesempatan semua pihak untuk dialog antaragama yang kemudian sangat booming“.

“Dari kota New York, kemudian jadi fenomeda global,” ujar Shamsi.

Islam semakin berkembang dan radikalisme juga diidentikkan dengan supremasi kulit putih

Dua puluh tahun sejak Serangan 11 September, Shamsi menyebut persepsi yang salah tentang Islam di AS sudah berkurang. Islam juga menjadi agama yang “sangat populer” dengan politisi-politisi Muslim, termasuk anggota kongres, wali kota dan anggota dewan perwakilan daerah di New York.

“Di NYPD, ada sekitar 1.000 lebih polisi yang Muslim dan ada salat Jumat. Di sekolah umum, sudah ada liburan Idul Fitri, Idul Adha, dan makanan halal yang didanai pemerintah, karena anak-anak perlu makanan halal.”

“Masyarakat Amerika sudah melakukan perubahan2 dalam melihat Islam,” katanya lagi.

Menjelang peringatan ke-20 Serangan 11 September, naiknya banyak Muslim Amerika ke posisi berpengaruh di Washington dan posisi-posisi penting lain, merupakan perkembangan yang tidak diperkirakan dua dekade lalu, lapor Newsweek.

Tiga distrik Detroit akan memilih wali kota-wali kota Muslim pertama, tim sepak bola Amerika New York Jets mengangkat Robert Saleh sebagai pelatih Muslim pertama, sementara CBS menampilkan drama dengan karakter utama Muslim, tambah Newsweek dari serangkaian posisi penting.

Pada 2001, sekitar satu juta Muslim tercatat tinggal di AS, menurut data Association of Religious Data Archives, dan jumlah pemeluk Islam sekarang tercatat sekitar 3,5 juta.

Sementara jumlah masjid meningkat dua kali lipat sejak tahun 2000 menjadi lebih dari 2.700 di seluruh AS.

“Keberkahan” naiknya Trump

Shamsi mengatakan salah satu dari apa yang ia sebut sebagai “keberkahan” naiknya Donald Trump adalah bahwa “tuduhan radikalisme tak lagi identik dengan orang Islam, namun kelompok supremasi kulit putih yang mengambil alih Capitol Hill [Januari lalu].”

Tetapi tantangan ke depan masih besar, menurut Shamsi.

Umat Islam harus berbenah terus menerus, katanya. “Ada harapan dunia Barat bahwa Islam harus menjadi bagian dari kontribusi dalam membangun peradaban dunia.”

Ia mencontohkan kontribusi kecil komunitas Muslim di lembaga yang dipimpinnya, Jamaica Muslim Centre.

“Dulu orang takut untuk tinggal di daerah ini, karena narkoba dan sebagainya. Sejak Jamaican Muslim Centre berdiri, orang-orang Islam datang membeli rumah dan membuka usaha, akhirnya menjadi salah satu daerah yang paling aman.”

Di Idul Adha lalu, wali kota terpilih Eric Adams datang secara khusus untuk menyampaikan apresiasi.

“Inilah komunitas yang kita harapkan, yang bisa berkembang dan memberi kontribusi positif,” katanya, seperti ditirukan Shamsi.

Pada 2013, Shamsi mendirikan Nusantara Foundation, organisasi sosial untuk mendorong dialog antaragama.

Melalui yayasan ini, kata Shamsi, “Saya ingin Amerika sadar, ketika mendengar kata Islam tak lagi menengok ke Saudi, Qatar, atau Timur Tengah, tapi ke Indonesia.” (dtk)

PKB Desak Bupati Jember Tolak Kenaikan Cukai Rokok dalam Gelar Istigosah

PKB Desak Bupati Jember Tolak Kenaikan Cukai Rokok dalam Gelar Istigosah

Bintangpos.com, Jember– Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendesak Bupati Hendy Siswanto agar menolak kenaikan cukai rokok. PKB juga menuntut agar dana bagi hasil cukai diperuntukkan pengembangan petani tembakau.

Ketua DPC PKB Jember Ayub Junaidi berharap Hendy bisa menggunakan pengaruhnya sebagai Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) Jawa Timur untuk menggalang penolakan serupa dari daerah-daerah penghasil tembakau dan produk turunannya. “Jember ini sejak lama dikenal sebagai produsen daun emas,” katanya, Jumat (10/9/2021).

PKB Jember memulai gerakan penolakan tersebut dalam istigosah (doa bersama) di Graha Gus Dur Jember, Jalan Danau Toba, Kamis (9/9/2021) malam. Istigosah yang dipimpin Wakil Rois Syuriah Pengurus Cabang NU Jember KH Badrus Sodiq bersamaan dengan acara serupa di Graha Gus Dur Surabaya dan Graha Gus Dur Sumenep dengan tajuk Istigosah Koalisi Tembakau.

“Selama ini posisi petani tembakau tengah krisis. Dukungan teknis untuk mereka dalam meningkatkan produksi dan pengolahan hasil tembakau relatif minim,” kata Ayub.

Dukungan finansial untuk membiayai program transisi tembakau juga minim. “Kelembagaan dewan komoditas yang berfungsi sebagai forum bagi semua pemangku kepentingan perkebunan, termasuk perkebunan tembakau, belum optimal,” kata Ayub.

Padahal, lanjut Ayub, kelembagaan ini penting direalisasikan untuk melindungi petani tembakau. “Peta Jalan ini mencakup target jangka pendek dan jangka panjang, strategi, dan langkah operasional untuk mencapai target-target tersebut,” katanya.

PKB Jember melihat kebijakan tembakau Indonesia antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian belum terkoordinasi dengan baik. “Belum ada peta jalan industri produk tembakau jangka penjang menengah dan pendek. Setiap kementerian mengartikulasikan target mereka masing- masing yang sebetulnya bisa diintegrasikan menjadi peta jalan perkebunan tembakau dan produknya secara komprehensif. Upaya pemerintah yang lebih kuat dan terkoordinasi pada tingkat nasional dan daerah dapat menguntungkan petani tembakau,” kata Ayub. [brj]

Gerakan Nasional 1000 Startup Digital “Road To Ignition” Tahun 2021 Hadir di Surabaya

Gerakan Nasional 1000 Startup Digital “Road To Ignition” Tahun 2021 Hadir di Surabaya

Bintangpos.com, Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bakal melakukan kerjasama dalam program Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital. Gerakan ini bertujuan untuk menciptakan lebih banyak perusahaan rintisan berbasis digital yang akan mentransformasi Indonesia menjadi negara maju dengan anak muda sebagai motor penggeraknya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Surabaya, M Fikser mengatakan, bahwa Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital merupakan program Kemenkominfo sejak tahun 2016. Di tahun 2021, program ini akan dilaksanakan di 20 daerah dan salah satunya Kota Surabaya.

“Ini adalah programnya Kementerian Kominfo, dimana ada beberapa kota yang dinilai itu bisa dilaksanakan kegiatan pembinaan startup digital secara sustainable. Salah satunya yang dipilih adalah Kota Surabaya,” kata Fikser di kantornya, Jum’at (10/9/2021).

Sebelumnya, program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital tahun 2020 telah dilaksanakan di 17 kota di Indonesia dan dibagi dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah Ignition, yakni seminar untuk memaparkan permasalahan utama yang ada di Indonesia. Kemudian, dilanjutkan dengan tahap workshop, dimana peserta diberikan pembekalan keahlian yang mereka butuhkan dalam membuat sebuah startup digital.

Sedangkan tahap selanjutnya adalah Hacksprint, dengan tujuan untuk menghasilkan solusi dari masalah yang sudah ditemukan pada saat workshop. Lalu tahap kemudian ialah Bootcamp, yang merupakan sesi mentoring mendalam untuk berkonsultasi tentang perkembangan startup yang telah mereka kerjakan. Sementara tahap akhir adalah Incubation, yaitu sebuah tahapan berupa pembinaan mendalam untuk mendapatkan atau menghasilkan minimum viable product (MVP). Setelah tahap Incubation, startup akan berkantor di Koridor Coworking Space agar tetap terupdate progress perkembangannya.

Fikser menjelaskan, Gerakan Nasional 1000 Startup Digital di Surabaya bakal diawali dengan “Road To Ignition” yang berlangsung di Koridor Coworking Space pada Sabtu (11/9/2021). Tujuannya adalah untuk meningkatkan animo masyarakat serta menyebarluaskan informasi mengenai kegiatan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital.

“Jadi besok ini adalah Road to Ignition, belum Ignition. Ignition akan dilaksanakan mulai akhir September. Pelaksanaannya bertahap sampai tahun depan, jadi benar-benar seperti kurikulum satu semester, itu melekat terus,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan, bahwa ada beberapa rangkaian acara dalam “Road To Ignition” yang berlangsung besok. Di antaranya yakni, webinar dengan menghadirkan perwakilan Rektor dari Universitas di Surabaya, kepala dinas, alumni dari Gerakan Nasional 1000 Startup Digital, Startup Founder dari Koridor Coworking Space, serta perwakilan komunitas yang terkait. Dan yang terpenting pula adalah dilakukan penandatanganan Nota Kesepakatan Sinergi (NKS) Program 1000 Startup Digital antara pemkot diwakili Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi bersama Kementerian Kominfo yang diwakili Direktur Pemberdayaan Informatika, Bonifasius Wahyu Pudjianto.

“Jadi Sabtu (11/9/2021) besok dalam Road To Ignition akan dilaksanakan penandatanganan NKS di Koridor Coworking Space yang dilakukan Pemkot Surabaya dengan pihak Kementerian Kominfo. Road To Ignition berlangsung dengan konsep hybrid di Kota Surabaya,” kata Fikser.

Melalui penandatanganan NKS ini, kata Fikser, diharapkan ke depan lebih banyak tercipta startup digital baru untuk menciptakan solusi bagi kebutuhan warga Kota Surabaya hingga berkembang menjadi inovasi digital. “Dengan penandatanganan NKS ini, maka ada kerjasama yang lebih komprehensif dan sinergi antara pemkot dan Kemenkominfo,” ujarnya.

Bagi Kota Surabaya, Fikser menyebut, tentu ada beberapa manfaat yang bisa didapat dengan adanya kolaborasi ini. Salah satu poin pentingnya yakni, pihak Kemenkominfo berkomitmen menggelar program-program selain Gerakan 1000 Startup Digital di Surabaya. Seperti di antaranya kegiatan workshop-workshop berkualitas melalui Sekolah Beta. “Sehingga diharapkan warga Surabaya bisa memanfaatkan peluang ini,” pungkasnya.

Sebagai diketahui, selain dilakukan penandatangan NKS, dalam Road To Ignition ini juga diisi beberapa rangkaian acara. Di antaranya, sharing session dengan keynote speaker Asri Wijayanti (Founder & CEO Jahitin). Kemudian, diskusi panel dengan menghadirkan Dedhy Trunoyudho (Co Founder Garda Pangan), Niko Julius (Founder SocialMediaMarket.id) dan Fuadit Muhammad (Software Engineer & Content Creator) yang hadir melalui virtual.

Di samping itu, kegiatan Road To Ignition ini menargetkan sekitar 2 ribu peserta yang berasal dari mahasiswa di Surabaya. Para peserta sebelumnya telah mengikuti Fase Roadshow yang mampu memberikan komitmen untuk menciptakan sebuah startup dan mampu menjadi bagian dari ekosistem digital.

Untuk kehadiran peserta Road To Ignition, sebelumnya dapat mengisi registration form melalui Google Form Gerakan Nasional 1000 di tautan bit.ly/roadtoignitionSBY2021. Menariknya, Road To Ignition juga bisa diikuti masyarakat melalui zoom online dan youtube live Bangga Surabaya dan Sapa Warga Kota Surabaya mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai. (brj)

Pilgub Kalsel : DKPP Pecat Anggota KPUD Banjar karena Tak Netral

Pilgub Kalsel : DKPP Pecat Anggota KPUD Banjar karena Tak Netral

Bintangpos.com, Jakarta – Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) memecat anggota KPU Banjar, Abdul Karim Omar karena tidak netral di Pilgub Kalimantan Selatan (Kalsel). Abdul Karim Omar terbukti menelepon Ketua DPRD Banjar yang juga Ketua DPC Partai Gerindra sebagai ketua timses cagub Denny Indrayana.

“Menjatuhkan sanksi pemberhentian tetap kepada teradu Abdul Karim Omar selaku Anggota KPU Kabupaten Banjar terhitung sejak putusan ini dibacakan,” demikian bunyi putusan DKPP yang dikutip detikcom dari website DKPP, Jumat (10/9/2021).

Putusan ini diketok oleh ketua majelis Muhammad dengan anggota Alfitra Salam, Teguh Prasetyo, Didik Supriyanto, Ida Budhiati, Pramono Ubaid Tanthowi dan Mochammad Afifuddin. DKPP menilai rekaman antara Abdul Karim Omar dengan Ketua DPRD Banjar, Muhammad Rofiqi melanggar etik. Rekaman itu adalah:

Muhammad Rofiqi:

Ohh, jadi itu nang membagi jar ke semua PPK bib ae (ohh, jadi itu yang membagi katanya kesemua PPK bib)

Abdul Karim Omar:
eeh, cuman ada PPK yang…, banyak jua PPK yang menolak (iya, Cuma ada PPK yang…, banyak juga PPK yang menolak),

Mummad Rofiqi:
Tapi sebagian besar mau jar.

Abdul Karim Omar:
Mau, cuman, ya lo ada ada nang maambil nih, ini kan gawian. Ada duit jar kacak ae dulu ya kalo, tapi nya kada menggawi. Sekalinya kira kawa gasan berelaan. Kada kawa ditariknya pulang (mau, cuma, ya ada yang mengambil nih, ini kan pekerjaan. Ada duit ya diambil saja dulu ya kan, namun tidak dikerjakan. Mungkin dikira bisa diikhlaskan. Tidak bisa diambil lagi)”.

“Teradu membenarkan bahwa rekaman suara itu adalah dirinya dengan Muhammad Rofiqi, meskipun Teradu menekankan bahwa percakapannya hanyalah percakapan biasa dan kejadian pembagian uang kepada PPK tidak pernah terjadi. Percakapan yang terekam serta pernyataan Teradu sebagai saksi dalam persidangan Mahkamah Konstitusi dipandang sebagai satu rangkaian pesan yang saling berhubungan. Rekaman video persidangan Mahkamah Konstitusi yang diajukan sebagai alat bukti oleh Pengadu telah diputar dan dikonfirmasi kepada para pihak dalam persidangan DKPP. Nampak dalam gambar, Teradu sedang menanggapi pertanyaan Sdr. Denny Indrayana dengan menyatakan bahwa tidak mengenal dan tidak mengetahui soal pemberian uang kepada PPK,” papar majellis DKPP.

DKPP mengungkap oercakapan tersebut dilakukan pada 28 Januari 2021. Di hari yang sama, Abdul Karim Omar menyatakan pernah bertemu dengan Muhammad Rofiqi di kantor DPRD Kabupaten Banjar. Pertemuan tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan Ketua dan Anggota KPU Kabupaten Banjar lainnya.

“Fakta percakapan tersebut menunjukan bahwa Teradu bersikap tidak netral sebagaimana alat bukti rekaman suara. Rekaman percakapan yang viral tersebut dapat meruntuhkan kepercayaan publik terhadap kemandirian Penyelenggara Pemilu. Sikap dan tindakan Teradu bertemu kembali dengan Muhammad Rofiqi tanpa sepengetahuan koleganya menunjukkan adanya niat untuk memihak kepada peserta pemilihan tidak dapat dibenarkan menurut hukum dan etika,” terang DKPP.

Abdul Karim Omar terbukti tidak menyampaikan kepada koleganya terkait komunikasi dan pertemuannya dengan Muhammad Rofiqi. Bahkan melakukan klarifikasi secara sepihak kepada PPK tanpa melibatkan Anggota KPU Kabupaten Banjar lainnya.

“Seharusnya Teradu menyadari sebagai Anggota KPU Kabupaten Banjar harus bersikap netral, mandiri, sebaliknya sikap dan tindakan Teradu justru mencerminkan adanya pemihakan kepada peserta Pemilihan,” ujar DKPP.

Menurut DKPP, perbuatan Abdul Karim Omar tidak saja secara nyata mencederai kepercayaan publik terhadap pribadi Teradu tetapi juga mencoreng dan meruntuhkan kredibilitas kehormatan Penyelenggara Pemilu.

“Teradu telah secara sah dan meyakinkan terbukti melanggar Pasal 3, Pasal 6 ayat (2) huruf a dan huruf b, Pasal 7 ayat (1), Pasal 8 huruf a dan huruf l, Pasal 9, dan Pasal 15 huruf a Peraturan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu,” pungkas DKPP. (dtk)